Father: Daughter, you are now 21. In some time, you gonna get married. Do you have someone?
Daughter: Let's not talk about it, Father. I do not wish to get married this early. I want to get a nice job and live with you and mother.
Father: Sure. But, you know the fact that the rest is up to Allah. What if, I said, what if you are going to get married soon?
Daughter: What do you mean, Father?
The father smile at his daughter's question. The daughter get confused.
StoryOrangeOnline
relaxing ur mind , chill out :) sendiri punya short stories online , novels , etc..
Tuesday, May 22, 2012
assalamualaikum.. hey guys.. sorry for not being able to update this blog for a long time.. quite busy and when i do have time, i'm not really in the mood to update the blog.. so in this entry, i'd like to share a poem that i just wrote, not long ago.. actually, i plan to make a song out of it but unfortunately, i don play any instrument.. :) so anyone who would like to be my partner composer, let me know <3
to satisfy everyoneo
i am not able to do that
but i'll try to make things better
i may not be strong
mentally and emotionally
the fact that i am fragile
i admit it but i refuse to show it
even so
when no one is there for me
i wanted you to understand me
i wanted you to comfort me
whenever i feel down
whenever i feel like i have no one else
whenever i feel that the world has turn it's back on me
i may seem like i couldn't care less
but i hope u wont ever feel tired of me
i'm begging you to never leave me
because deep inside me
i am so vulnerable
that i cant bare anymore heartache
of losing the people that i love, i heart
so i need you, i need you, i need you
be there for me
that is all.. it may not be great, but u know, i am an amateur..hehe.. but seriously, this poem just pop up in my mind and i was so much in pain when i wrote this.. i'm human too <3 enjoy it , n thanks ..
Friday, March 02, 2012
Monolog Hati : Keliru~
24/06/2011
Pagi-pagi lagi aku sudah mula bersiap untuk pulang ke rumah. Rasa tidak sabar mahu berjumpa Umi dan Abi walaupun baru 2 minggu lepas Umi dan Abi datang melawatku di hostel. Mungkin kerana inilah Izzah memanggilku super-future-housewife (aku adalah homish person!). Setelah selesai bersiap, aku meminta Izzah untuk menghantarku ke stesen keretapi yang berhampiran. Perjalanan yang mengambil masa 2 jam setengah membuatkan rinduku semakin membuak-buak. Sampai sahaja dirumah, Umi sedia menyambutku di muka pintu. Tangan Umi kusalam dan aku hadiahkan ciuman didahi dan kedua-dua belah pipi Umi. Umi membalas ciumanku. Aku tersenyum manja sebelum masuk ke dalam rumah."Kakak naik letak barang kejap ye, umi.." ujarku sebelah berlalu untuk menuju ke bilikku. Aku duduk sebentar di atas katil sambil memeluk bantal busuk kesayanganku. Fikiranku dengan segera melayang ke peristiwa pagi tadi sewaktu Izzah menghantarku ke stesen keretapi. Tanpa aku sedar, rupa-rupannya Adam telah berjanji dengan Izzah untuk berjumpa di sana. Adam mengusik mahu mengikut pulang ke kampung. "Jangan melawak sangatlah, Adam." ujarku dalam menahan rasa malu. "Adam tak melawaklah. Mila yang cakap kalau nak serius dengan Mila, kena tackle ayah Mila. Ni dalam usaha nak tackle ayah Milalah ni.." balas Adam selamba. Aku dapat merasakan mukaku semakin panas. Tak dapat aku bayangkan betapa merahnya mukaku ketika itu. Izzah yang berada disebelahku hanya tersengih. "Lain kalilah, terkejut Umi dengan Abi nanti, tiba-tiba ada orang datang macam ni.."balasku tanpa memandang ke arah Adam. Keretapi menghampiri. Aku memboloskan diriku ke dalam perut kenderaan itu sebaik sahaja pintu dibuka.
25/06/2011
"Farid.." lelaki dihadapanku itu memperkenalkan dirinya. Aku hanya menganggukkan sedikit kepalaku. " Mila.." balasku. Suasana diam sebentar. Abangku yang duduk selang dua meja daripada kami sedang leka membaca surat khabar. Aku tidak pasti sama ada benar atau mungkin abangku itu sedang pasang telinga untuk mendengar butir bicara kami. "Awak..."kami bersuara serentak dan kami sama-sama diam kembali. "You first..." ujar Farid semula penuh hemah. Aku senyum. "Awak setuju dengan perkara ni?" soalku tanpa banyak berselindung. Farid tidak terus membalas pertanyaanku. Dia mengeluarkan sekeping gambar lama. Dua pasangan yang ku pasti salah satunya ialah Umi dan Abi, seorang kanak-kanak berumur dalam lingkungan tiga tahun dan seorang bayi lelaki yang di dukung oleh lelaki dari pasangan yang satu lagi. Aku mengambil gambar itu daripada tangannya dan meneliti. "Our parents, yang baby tu saya.." terang Farid tanpa aku minta. "Budak lelaki tu rasanya awak kenal kan? Abang awak.."sambungnya lagi. Aku hanya mengangguk. "Papa dengan Mama hanya bagi saya gambar tu, dan cakap tak lama lagi kita bakal jadi satu keluarga. Saya confuse jugak, tapi lepas Mama terangkan, saya faham.."terangnya lagi. "Dan awak setuju?" soalku lagi. Walaupun aku tahu soalanku kedengaran tidak berhemah, namun aku lebih suka berterus-terang sahaja dalam situasi ini. "Saya percaya Mama dengan Papa tahu apa yang terbaik untuk saya." ringkas sahaja jawpannya namun cukup untuk menggegarkan hatiku. "Walaupun kita tak pernah kenal? Even dalam gambar ni pun saya takde lagi.." ujarku terus memberikan apa saja hujah yang terlintas dikepalaku. Farid melemparkan senyumannya lagi. Kali ini, hatiku sedikit goyah melihat keikhlasan dalam senyumannya itu. "Macam saya cakap tadi, saya percaya dengan Mama dan Papa.." jawapannya itu meninggalkan aku dengan rasa berat di kepala dan hati.
25/06/2011
"Farid.." lelaki dihadapanku itu memperkenalkan dirinya. Aku hanya menganggukkan sedikit kepalaku. " Mila.." balasku. Suasana diam sebentar. Abangku yang duduk selang dua meja daripada kami sedang leka membaca surat khabar. Aku tidak pasti sama ada benar atau mungkin abangku itu sedang pasang telinga untuk mendengar butir bicara kami. "Awak..."kami bersuara serentak dan kami sama-sama diam kembali. "You first..." ujar Farid semula penuh hemah. Aku senyum. "Awak setuju dengan perkara ni?" soalku tanpa banyak berselindung. Farid tidak terus membalas pertanyaanku. Dia mengeluarkan sekeping gambar lama. Dua pasangan yang ku pasti salah satunya ialah Umi dan Abi, seorang kanak-kanak berumur dalam lingkungan tiga tahun dan seorang bayi lelaki yang di dukung oleh lelaki dari pasangan yang satu lagi. Aku mengambil gambar itu daripada tangannya dan meneliti. "Our parents, yang baby tu saya.." terang Farid tanpa aku minta. "Budak lelaki tu rasanya awak kenal kan? Abang awak.."sambungnya lagi. Aku hanya mengangguk. "Papa dengan Mama hanya bagi saya gambar tu, dan cakap tak lama lagi kita bakal jadi satu keluarga. Saya confuse jugak, tapi lepas Mama terangkan, saya faham.."terangnya lagi. "Dan awak setuju?" soalku lagi. Walaupun aku tahu soalanku kedengaran tidak berhemah, namun aku lebih suka berterus-terang sahaja dalam situasi ini. "Saya percaya Mama dengan Papa tahu apa yang terbaik untuk saya." ringkas sahaja jawpannya namun cukup untuk menggegarkan hatiku. "Walaupun kita tak pernah kenal? Even dalam gambar ni pun saya takde lagi.." ujarku terus memberikan apa saja hujah yang terlintas dikepalaku. Farid melemparkan senyumannya lagi. Kali ini, hatiku sedikit goyah melihat keikhlasan dalam senyumannya itu. "Macam saya cakap tadi, saya percaya dengan Mama dan Papa.." jawapannya itu meninggalkan aku dengan rasa berat di kepala dan hati.
Part 1 || Part 3
Wednesday, January 04, 2012
a Memo from 'your' Child :)
- Don’t spoil me. I know quite well that I ought not to have all I ask for. I’m only testing you.
- Don’t be afraid to be firm with me. I prefer it. It lets me know where I stand.
- Don’t use force with me. It teaches me that power is all that counts. I will respond more readily to being led.
- Don’t be inconsistent. That confuses me and makes me try harder to get away with anything I can.
- Don’t make promises that you may not be able to keep. That will discourage my trust in you.
- Don’t fall for my provocations when I say and do things just to upset you. Then I’ll try for more such victories.
- Don’t be too upset when I say “I hate you.” I don’t mean it, but I want you to feel sorry for what you have done to me.
- Don’t make me feel smaller than I am. I will make up for it by behaving like a “big shot.”
- Don’t do things for me that I can do for myself. It makes me feel like a baby and I may continue to put you in my service.
- Don’t correct me in front of people. I’ll take much more notice if you talk quietly with me in private.
- Don’t try to discuss my behavior in the heat of conflict. For some reason my hearing is not very good at this time and my cooperation is even worse. It is all right to take the action required, but let’s not talk about it until later.
- Don’t make me feel that my mistakes are sins. I have to learn to make mistakes without feeling that I’m no good.
- Don’t nag. If you do, I shall have to protect myself by appearing to be deaf.
- Don’t demand explanations for my wrong behavior. I really don’t know why I did it.
- Don’t tax my honesty too much. I am easily frightened into telling lies.
- Don’t forget that I love and use experimenting. I learn from it, so please put up with it.
- Don’t protect me from consequences. I need to learn from experience.
- Don’t take too much notice of my small ailments. I may learn to enjoy poor health.
- Don’t put me off when I ask HONEST questions. If you do, you will find that I will stop asking and seek information elsewhere.
- Don’t answer “silly” or meaningless questions. I just want you to keep busy with me.
- Don’t ever think that it is beneath your dignity to apologize to me. An honest apology makes me feel surprisingly warm toward you.
- Don’t ever suggest that you are perfect or infallible. It gives me too much to live up to.
- Don’t worry about the little amount of time we spend together. It is HOW we spend it that counts.
- Don’t let my fears arouse your anxiety. Then I will become more afraid. Show me courage.
- Don’t forget that I can’t thrive without lots of understanding and encouragement, but I don’t need to tell you that, do I?
- TREAT ME THE WAY YOU TREAT YOUR BEST FRIEND. THEN I WILL BE YOUR FRIEND TOO. REMEMBER, I LEARN MORE FROM A MODEL THAN A CRITIC.
Credit : Chicago Council, Community Child Centers, Inc. November, 1963
Monolog Hati : Andai ~
02/08/2011
Maybe this is how it supposed to end. I can't tell either. Not long before, I believed that we're belong together, but maybe Allah has something better for me in future, we broke up. It's just two month but I'm already so fond of him that I have to let him go. It's better to hurt now, than to hurt in the future and I won't be able to get up again. I hope this is the best decision. I didn't want to, but I have to...
Maybe this is how it supposed to end. I can't tell either. Not long before, I believed that we're belong together, but maybe Allah has something better for me in future, we broke up. It's just two month but I'm already so fond of him that I have to let him go. It's better to hurt now, than to hurt in the future and I won't be able to get up again. I hope this is the best decision. I didn't want to, but I have to...
....................................................................................................................................................................
27/06/2011
"Mila, makan jom. Kau tak penat ke daripada tadi mengelamun..." tegur Izzah sambil duduk di sofa bersebelahan denganku. "Mengelamun je pun. Mana penat..." balasku dalam nada gurauan. "Ada je nak jawab tau minah sorang ni. Aku cubit kau karang..."housemateku itu memberi amaran sambil tangannya sudah pun bersedia untuk mencubit lenganku. "Oiii, karang kan? Bukan sekarang.. Nanti kau yang aku cubit dulu!" gurauku lagi. Izzah hanya tersengih sambil menghulurkan mangkuk yang berisi buah-buahan yang baru dipotongnya tadi. "Thank you!" ujarku sambil mengambil potongan buah epal dan menyuap buah epal itu ke mulutku. "Macam mana interview tadi? Gilalah kau, baru je balik dari kampung terus pergi sana. Macam manalah kau boleh lupa ada interview. Sengal betul. Otak kau nak kena servis ni. Dah makin berkarat aku rasa."selamba sahaja mulut Izzah memberikan komen. Dengan pantas, aku mencapai bantal kecil di sebelah ku dan mencampakkannya ke muka Izzah. Izzah mengambil semula bantal itu dan berlakunya perang bantal antara kami. "Mila, Adam ada tanya pasal kau tadi. Dia call aku. Tak dapat contact kau dia cakap. Kau ada masalah dengan dia ke?" soal Izzah tiba-tiba lantas mematikan senyumanku. Lama aku memandang Izzah. "Mila...." panggil Izzah. "Takde apa-apalah..." balasku tersenyum dan terus berlalu dari situ.
......................................................................................................................................................................
26/06/2011
Jodoh? Sebagai seorang muslimah, memang 100% aku yakin jodoh itu di tangan Allah. Apalah daya aku andai memang tertulis aku adalah untuknya dan dia adalah untukku. Tapi aku juga percaya aku masih ada hak mencari siapa yang aku mahu untuk mengisi hatiku. Hati dan perasaan, bukan sesuatu yang boleh dihalang-halang. Aku juga sedar, mustahil untuk aku membahagiakan semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku mahu mencari bahagia di syurga Allah, tapi aku juga dahagakan bahagia di dunia. Aku terasa berdosa, tapi hati ini. Apa yang harus aku buat dengannya?
21/06/2011
"Assalamualaikum, umi.." ujarku sebaik sahaja menjawab panggilan telefon yang mematikan lamunanku sebentar tadi. "Waalaikumsalam. Kakak balik tak minggu ni? Umi dengan Abi ada hal nak bincang. Abang pun janji dengan Umi nak balik minggu ni."balas suara lembut Umi. "InsyaAllah, mi. Kelas kakak sampai khamis je minggu ni. Jumaat nanti kakak balik kot. Apa-apa nanti kakak inform Umi balik." terangku. Kami berbual-bual seketika sebelum panggilan ditamatkan. "Aunty Dhiah eh?"soal Izzah sebaik sahaja aku menamatkan panggilan itu. Aku hanya mengangkat kening bagi menyiyakan pertanyaan Izzah itu. "Sihat Umi kau tu? Lama tak jenguk sini. Rindu pulak rasa.." ujar Izzah separuh bergurau, mungkin mahu menyakatku kerana dia tahu benar sifatku yang keanak-anakan, tidak mahu 'berkongsi kasih' Umi dengan orang yang bukan ahli keluarga atau teman terdekatku. "Eh, sibuk je dengan Umi orang lain. Rindulah dengan Umi kau sendiri.."balasku, juga dalam nada gurauan. Yang pasti, ini memang sekadar gurauan kerana aku sememangnya rapat dengan Izzah. Umi juga kadangkala akan datang melawatku di sini dengan membawakan makanan yang dimasak dari rumah. Sebagai teman sebilik, semestinya Izzah turut sama berkongsi. Mungkin kerana itu, Izzah agak rapat dengan keluargaku. "Tak baik kedekut ok. Sharing is caring.." balasan Izzah itu membuatkan kami sama-sama ketawa. "Ha, aku dengar nanti ada in-campus interview kan? Untuk budak-budak course kau. Kau join sekali, Mila?" soal Izzah tiba-tiba. "Pergilah kot, insyaAllah. Hari Isnin. Tapi aku balik tau Jumaat ni. Ada hal apa entah Umi aku cakap. Buat suspen je.." omelku. "Oh, ada orang pinang kau kot..." gurau Izzah, sekaligus membuatkan hatiku berdegup. Seperti dapat merasakan sesuatu.
......................................................................................................................................................................
26/06/2011
Jodoh? Sebagai seorang muslimah, memang 100% aku yakin jodoh itu di tangan Allah. Apalah daya aku andai memang tertulis aku adalah untuknya dan dia adalah untukku. Tapi aku juga percaya aku masih ada hak mencari siapa yang aku mahu untuk mengisi hatiku. Hati dan perasaan, bukan sesuatu yang boleh dihalang-halang. Aku juga sedar, mustahil untuk aku membahagiakan semua orang, termasuk diriku sendiri. Aku mahu mencari bahagia di syurga Allah, tapi aku juga dahagakan bahagia di dunia. Aku terasa berdosa, tapi hati ini. Apa yang harus aku buat dengannya?
21/06/2011
"Assalamualaikum, umi.." ujarku sebaik sahaja menjawab panggilan telefon yang mematikan lamunanku sebentar tadi. "Waalaikumsalam. Kakak balik tak minggu ni? Umi dengan Abi ada hal nak bincang. Abang pun janji dengan Umi nak balik minggu ni."balas suara lembut Umi. "InsyaAllah, mi. Kelas kakak sampai khamis je minggu ni. Jumaat nanti kakak balik kot. Apa-apa nanti kakak inform Umi balik." terangku. Kami berbual-bual seketika sebelum panggilan ditamatkan. "Aunty Dhiah eh?"soal Izzah sebaik sahaja aku menamatkan panggilan itu. Aku hanya mengangkat kening bagi menyiyakan pertanyaan Izzah itu. "Sihat Umi kau tu? Lama tak jenguk sini. Rindu pulak rasa.." ujar Izzah separuh bergurau, mungkin mahu menyakatku kerana dia tahu benar sifatku yang keanak-anakan, tidak mahu 'berkongsi kasih' Umi dengan orang yang bukan ahli keluarga atau teman terdekatku. "Eh, sibuk je dengan Umi orang lain. Rindulah dengan Umi kau sendiri.."balasku, juga dalam nada gurauan. Yang pasti, ini memang sekadar gurauan kerana aku sememangnya rapat dengan Izzah. Umi juga kadangkala akan datang melawatku di sini dengan membawakan makanan yang dimasak dari rumah. Sebagai teman sebilik, semestinya Izzah turut sama berkongsi. Mungkin kerana itu, Izzah agak rapat dengan keluargaku. "Tak baik kedekut ok. Sharing is caring.." balasan Izzah itu membuatkan kami sama-sama ketawa. "Ha, aku dengar nanti ada in-campus interview kan? Untuk budak-budak course kau. Kau join sekali, Mila?" soal Izzah tiba-tiba. "Pergilah kot, insyaAllah. Hari Isnin. Tapi aku balik tau Jumaat ni. Ada hal apa entah Umi aku cakap. Buat suspen je.." omelku. "Oh, ada orang pinang kau kot..." gurau Izzah, sekaligus membuatkan hatiku berdegup. Seperti dapat merasakan sesuatu.
Monday, January 02, 2012
SUIT UP !
Salam.. hey peeps , the first post ever for 2012.. first of all, happy new year. may this year brings u success and happiness.. also , may me, u and ur loved ones (also us) are overflowed with Allah's blessing ..
soooooo.. who watch HOW I MET YOUR MOTHER ? raise up ur hand :) thanx a million to the owner of the blog where i got the pix below ...
soooooo.. who watch HOW I MET YOUR MOTHER ? raise up ur hand :) thanx a million to the owner of the blog where i got the pix below ...
credit : http://boisanerd.blogspot.com
Thursday, December 29, 2011
Tuesday, December 27, 2011
Zara : Ending !
“Zara, I have something to tell you. Have some time?” soal Azhan dengan kasual ketika terserempak dengan Zara di tepi dewan kuliah itu. “Sure, baru je habis kelas.” Balas Zara mesra. “Aku balik dululah ye, Zara.” Ujar Siti yang berada di sebelah Zara. “Okay, jumpa esok.” Zara membalas ringkas. Azhan mengajak Zara ke kafeteria. Sebelum mereka bergerak ke sana, ada sepasang mata yang memerhati namun hanya menghantar mereka dengan pandangan mata.
5 hours before..
Nasrul meraup mukanya sambil melepaskan keluhan berat. "What the hell is wrong with you, man?" lancang sahaja mulut Azhan, geram kerana kata-kata Nasrul tadi. Nasrul memandang gelas air di hadapannya dengan pandangan kosong. Dia juga buntu, keliru dengan perasaannya, tidak pasti dengan apa yang diinginkannya. "See, Nas. We were friends, and I hope we still are. Tapi kau...." Azhan tidak mampu menghabiskan kata-katanya. Tangannya digenggam, dia cuba untuk terus bersabar. "Aku rasa aku memang sayang dia, Han. She's the first, aku tak pernah rasa macam ni dulu. Nadia satu kesalahan besar ....." Nasrul tidak dapat meneruskan kata-katanya apabila Azhan tiba-tiba bangun dan menumbuk meja. "Kesalahan? Man, I'm speechless!" kasar Azhan menuturkan kata. "Kau kawan aku, Han. Kau kena tolong aku." Nasrul tidak mahu mengalah. "Mulut aku kebas sebab tak dapat nak curse kau. Seriously. Aku kenangkan kau kawan aku dan aku menyesal sebab kita boleh gaduh pasal perempuan. But dude, seriously, kali ni aku takde kat belakang kau untuk support kau lagi. Zara, I love her. You messed with her once, and your chance's gone. Kalau pun satu hari nanti dia tetap pilih kau, tapi aku dah nekad. I'll confess to her, I'll propose her." tegas Azhan. "You didn't mean it, Han.." protes Nasrul sambil memegang bahu Azhan. Dengan pantas, Azhan menolak dan melepaskan tumbukan yang sedari tadi ditahan. "Dude, kau couple dengan Nadia sebab kau malu classmates kau terus ejek kau. Sekali gus kau buatkan Zara macam orang yang terhegeh-hegehkan kau depan mata classmates. Kau tengok macam mana classmates kau treat Zara lepas tu, tapi apa kau buat? Kau ajak Nadia datang lepak dengan classmates kau sebab nak tengok reaksi Zara, bukan nak tenangkan dia tapi kau terus uji dia. Lelaki apa kau ni? But then bila dia dah moved on, kau main tarik tali balik dengan dia, kau makin menjadi-jadi bila aku bagitahu kau, aku ada feeling dekat dia kan? Macam tu ke kawan? Damn! Lepas kelas, aku akan jumpa dia, kalau pun dia tolak aku, aku redha je lepas tu. Sebab aku tahu dan aku yakin aku ikhlas. Lantak kau nak cakap apa!" Azhan menghamburkan kata-kata. Segala amarah yang disimpan terluah. Nasrul menggosok-gosok pipi bekas tumbukan Azhan tadi. Azhan menarik nafas panjang, dia beristighfar seketika kerana sedar kemarahan sedang menguasai diri. "I mean this, dude. Forget her if you really love her." ujar Azhan sebelum berlalu.
Present...
“Good friend? Like goooood friend?” tekan Zara. Azhan mengangguk. Tidak mahu menyembunyikan kebenaran. “Why haven’t you told me before?” soal Zara lagi. “I’ve tried but I think you might misunderstand, so I shut up. Baru gain strength untuk bagitahu awak sebab apa yang saya nak bagitahu lagi lepas ni, buatkan saya kena terus terang dengan awak.” terang Azhan. “Apa lagi?” soal Zara lagi, tenang tetapi ayatnya seperti mengandungi amaran. “Sebelum tu, biar saya explain apa yang saya rasa saya patut explain, boleh?” pinta Azhan. “Pasal siapa lelaki yang awak selalu cerita, memang saya baru tahu sebulan lepas, masa awak tunjuk gambar dia masa kita chat tu. Dia sendiri pun tak pernah bagitahu saya betul-betul siapa awak. Lepas tu, saya memang nak bagitahu awak tapi saya rasa belum masanya. Tapi saya terus tanya Nasrul lepas tu, dan saya dah sure 100% pasal awak berdua. Masa kita jumpa kelmarin, Nasrul tahu saya nak jumpa awak. Oh ye, sebelum awak tanya, let me explain. Kami sama-sama tak tahu macam mana nak bagitahu hal ni dekat awak sebab tu saya ataupun Nasrul takde sebut apa-apa pasal hal ni kat awak.” Terang Azhan. “Okay..” pendek Zara membalas. Masih mahu mendengar penjelasan Azhan. “Did I disappoint you?” soal Azhan risau. Zara tersenyum sedikit. “Nope. Tapi satu benda saya nak tanya, yang awak idle lepas saya tunjuk gambar tu....” Zara tidak dapat menghabiskan ayatnya. “Kebetulan Nasrul datang. Saya terus tanya dia, time tu jugak..” potong Azhan. Zara menganggukkan kepalanya. Puas hati dengan jawapan Azhan. “Satu lagi perkara yang saya nak cakap ni, saya harap awak dengar dan fikirkan rationally. Takde kaitan dengan apa yang berlaku, jauh sekali saya nak manipulate keadaan. Dah lama saya rasa benda ni, sejak kita sama-sama jadi committee dulu..” Azhan bermukadimah sebelum meneruskan kata-katanya. “Depends. InsyaAllah..”balas Zara ikhlas. “I like you. I mean, I have some feeling for you. Yang pasti, bukan sekadar kawan.” Zara sedikit terkejut dengan luahan itu tetapi dia tetap tenang. Degup hatinya yang laju berjaya disembunyikan dengan raut wajahnya yang tidak mudah berubah. “Awak pasti dengan perasaan awak?” soal Zara perlahan. “I do. Saya tak janji yang saya boleh jadi lebih baik daripada Nasrul, tapi saya cuba. Saya ikhlas. I’ll do my best kalau awak bagi chance.” Terang Azhan bersungguh-sungguh. “Sejauh mana awak nak hubungan kita? Berapa lama?” Zara terus menduga. “Berapa lama, saya tak dapat jangka. Sebagai hamba, saya terima takdir Allah. Tapi saya harap dan cuba untuk end up kan hubungan kita dengan something which is marriage, kerana Allah, insyaAllah. Seboleh-bolehnya, I just want you until the end of my breath, saya tak sempurna tapi saya akan cuba yang terbaik untuk awak dan saya sendiri.” Ikhlas Azhan melontarkan kata. “Thanks sebab ada perasaan dan intention macam tu untuk saya. Saya pun hanya hamba Allah, kalau dah takdir, saya boleh buat apa lagi, kan? Tapi buat masa sekarang ni, biar kita tumpukan dengan apa yang penting dulu. We’ll sort things out bila masa dah sampai nanti. Kalau jodoh, tak kemana kan. Buat masa ni, cukup untuk awak tahu yang saya akan hormat perasaan awak tu, dan saya mintak awak hormat juga perasaan dan keputusan saya. Boleh?” Zara membalas penuh hemah. Azhan tersenyum. Senang mendengar jawapan yang keluar daripada bibir gadis di hadapannya itu. “InsyaAllah. Thanks, Zara.” Balas Azhan dengan senyuman yang mekar dibibir. Zara membalas senyuman itu. Tanda mereka menghormati antara satu sama lain.
Friday, December 23, 2011
Zara : Part 3
A month before.....
“Farah, betul ke Kak Nadia dengan Nasrul couple? Tak sangkalah, tapi memang secocok je diorang kan?” suara yang sengaja dikuatkan itu kedengaran menjengkelkan. Zara hanya buat tidak tahu walau pun hatinya meronta ingin tahu. Naila memandang Zara sambil melemparkan senyuman yang jelas tidak ikhlas, mungkin sengaja ingin menduga kesabaran gadis itu. Kemudian dia berlalu ke tandas bersama-sama Farah. Siti yang tekun menyiapkan proposal individu di sebelah mereka tadi datang menyapa Zara. “Asal lambat sampai hari ni? Panas telinga aku dengar perempuan dua orang tu memekak daripada tadi. Kau dah dengar apa yang jadi? Haiishh, geram pulak aku!” Siti melepaskan kemarahannya. “Kenapa?” soal Zara, antara endah tidak endah. “Nasrul dengan Nadia. Obvious diorang sengaja menyalak kuat-kuat tadi masa kau masuk. Bukan nak api kan kau, tapi serius aku bengang gila dengan manusia dua orang tu. Tak serik-serik lagi ke? Berbakul-bakul dosa nak dikumpul..” omel Siti. “Habis tu sekarang ni kau tengah buat apa?” Zara cuba berseloroh, menyembunyikan getaran di dalam hatinya. Siti tergelak kecil. “Macam mana lah kau boleh sabar, Zara. Ada je kau nak betah cakap aku. Asalkan kau bahagialah, Zara. Tapi jangan dibela sangat budak-budak tu, sebab tu makin lama makin sedap diorang pijak kepala kau. Stop pretending being so nice and innocent, okay?” gurau Siti. Zara hanya membalas dengan ketawa kecil.
Later that night ...
Ara: Kumbang dah rasmi terbang hinggap ke bunga lain..
Hans: What do u mean?
Ara: He end up with some other girl. Wanna know what the best thing is?
Hans: What?? Seriously? Sure, what is it?
Ara: She’s our senior. A sister of the girl classmate’s friend I told u about.
Hans: That unlucky girl, u mean?
Ara: That’s so not a gud thing to say about her. Well, yeah! I feel so wronged~
Hans: In what way?
Z_Ara: Don’t know whether it’s true or not, but a friend of mine said, there’s a conspiracy. Well, saya tak nak buruk sangka tapi it’s quite reasonable. They know about me, us, i mean. Yet .... H
ans: Tak payah explain lagi kalau susah. I understand now. Maybe ada betulnya. Memang ada motif untuk diorang buat macam tu based on the stories u’ve been told me. But, saya curious to death, who is that guy. Selalu dengar cerita awak tapi saya tak pernah tahu siapa sebenarnya lelaki tu.
Z_Ara: Haha, maaf. I think it’s time now to reveal who he is kan? I’ll show u his pic
Hans: What? U got his pic? Stalker! Haha
Z_Ara: We’re classmates, remember? We do take photos together. Here it comes. Take a look.
***idle***
Z_Ara: Hey there, still there??
***idle***
Z_Ara: Guess u’re not. Gudnite then, peep. Thanks for today’s session J
***idle***
Hans: Isn’t it too early for ‘gudnite’? Sorry, got some things to do. He’s Nasrul, isn’t he?
Z_Ara: Wooo.. u just did some research or what? Yeah, how do u know?
Hans: Haha, tak. I’m a guy, remember? I got my way to know who’s he. Informasi dihujung jari kan??
Z_Ara: Sure J
Hans: Are you okay?
Z_Ara: U think?
Hans: Not sure.. How do I know....?
Z_Ara: I’m gud, maybe. Not sure too ~
Hans: U need some gud rest, don’t u think?
Z_Ara: I guess I am. Jumpa lagi nnt J
Hans: Okay . Just cry if it helps. I’ll be here, if u need me. Take care
Wednesday, December 21, 2011
Seriously , Ideal Body .
Assalamualaikum , salam 1Malaysia..
Hi peeps, today and forever issue : get into ideal, dream body.. here i'd like to share some tips though i'm not a good-model-like-shape myself , (maybe sbb I tak betul2 dlm fasa sedar diri utk trim lemak2 yang tepu kat badan ni or simply because i love the way i'm *hypocrite*) .. already got this tips from somewhere which i dont remember where, a long time ago.. so, here it is ~
- Do Low Intensity Work Outs
- during cardiovascular activities : the lower the intensity of work outs, the more fat will burn off .. e.g. swimming , yoga , ballet *oh, i love dancing! (though i'm not gud at it)*
- Have A Good, Enough Sleep
- do not misunderstood! appropriate amount of time ONLY, not 20 hours sleep marathon okay teens n adults ~ "those who got 7 to 8 hours of sleep a night were thinner than those who slept 5 to 6 hours" easy : go to bed @ 11 and wake up @ 6.. sempat solat subuh, lagi berkat usaha nak kurus ! bukan tidur daripada 7 malam until 12 noon on the next day okay ~ (shusshh, hey ME, this is a reminder for u too)
- Find The Best Time to Exersice
- let your body and your life-style dictate the best time for you, meaning, if u r a morning person, a morning exersice is the best for you, but if u r not, maybe u should forget it. teeeheee :)
lots of love <3 leave a comment ~
Subscribe to:
Comments (Atom)
